Rendang Payakumbuh Mulai Diekspor ke Saudi

Rendang Payakumbuh Mulai Diekspor ke Saudi

Terhitung bulan Mei 2019, Pemerintah Kota Payakumbuh, Sumatra Barat akan melakukan ekspor rendang ke Saudi Arabia, pelaksanaan ekspor ini setelah penandatanganan MoU dengan pengusaha setempat.

Menurut Wakil Walikota Payakumbuh Erwin Yunaz menyebutkan sudah ada kesepakatan dengan pengusaha Saudi untuk pengiriman rendang, sehingga produk makanan khas Sumbar itu bisa dinikmati jemaah haji maupun masyarakat setempat.

“Sesuai rencana Mei ini dimulai pengiriman perdana rendang dalam bentuk kalio ke Arab Saudi,” katanya, Selasa (19/2/2019).

Dia mengatakan pengiriman rendang tahap pertama tersebut sebanyak satu kontainer atau sekitar 20 ton rendang bumbu.

Saat ini, pemerintah setempat tengah mengurus perizinan untuk pemasaran rendang di Saudi, sekaligus memastikan legalitas barang bisa masuk dengan baik, karena kebijakan suplai daging ke Saudi terbilang ketat.

Dengan rencana ekspor perdana tersebut, Pemkot Payakumbuh meyakini usaha makanan terutama rendang akan semakin berkembang di daerah itu. Termasuk usaha hulu, seperti pertanian cabai, kelapa dan peternakan sapi, sebagai bahan utama pembuatan rendang juga bakal berkembang pesat.

“Dampaknya banyak sekali. Ekspor rendang ini juga akan membantu meningkatkan kesejahteraan petani, karena kebutuhan kelapa, kebutuhan cabai, daging, ikut meningkat,” ujarnya.

Sebelumnya, Walikota Payakumbuh Riza Falepi mengatakan sudah ada 37 sentra industri rendang atau IKM yang memproduksi rendang di daerah itu, dengan total produksi melebihi 1 ton per hari.

“Rata – rata setiap IKM yang ada di Payakumbuh memproduksi 31 kilogram rendang per hari, kalau dikalkulasikan seluruh IKM bisa produksi 1.147 kilogram per hari, lebih dari 1 ton,” katanya.

Menurutnya, dengan produksi yang cukup besar tersebut, sudah pantas Kota Payakumbuh menyandang predikat sebagai kota rendang.

“Dengan produksi sebanyak ini, rasanya cukup sebagai modal awal untuk menjadikan Payakumbuh sebagai Kota Randang,” ujarnya.

Dia menyebutkan bahan dasar pembuatan rendang yaitu daging sapi juga tersedia di Payakumbuh, karena ada peternakan sapi, serta peternakan milik pemerintah di Padang Mengatas, dan adanya rumah potong hewan yang memadai.

Begitu juga dengan pemasaran, Payakumbuh sudah merupakan salah satu daerah tujuan wisata Sumbar, karena posisinya yang berada di jalur Padang – Pekanbaru, dan dekat pula dengan kota wisata Bukittinggi, sehingga pengembangan industri rendang diyakini bakal berjalan dengan baik.

Riza menyebutkan untuk jangka panjang produk rendang setempat akan diprioritaskan untuk kebutuhan ekspor, sehingga perlu dipastikan kualitas produknya.

Dia mengungkapkan untuk pengembangan industri rendang itu, Pemkot Payakumbuh menjalin kerjasama dengan BPOM Padang dan Batan dengan menyediakan teknologi retouch agar kualitas rendang terjaga untuk kebutuhan ekspor.

Dengan begitu, imbuhnya, maka Payakumbuh akan menjadi sentra produksi, penampungan, hingga pemasaran rendang ke mancanegara.

Martin Suhendri, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Padang mengatakan produk rendang perlu dipastikan kualitasnya agar layak untuk ekspor.

“Kami lakukan pemeriksaan untuk memastikan produk rendang yang dibuat memenuhi standar kualitas dan layak ekspor,” katanya.

Dia meyakini dengan dukungan pemerintah daerah dan semua pihak untuk pengembangan produk khas Minangkabau tersebut, maka rendang asal daerah itu bisa dipasarkan secara luas di mancanegara.

Apalagi, imbuhnya, selama ini rendang khas Sumbar sudah beredar di berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Timur Tengah. Bahkan, saat ini, sejumlah negara sudah menyatakan ketertarikan untuk mendatangkan rendang dari Sumbar.

Sejarah Rendang dan Makna Filosofisnya bagi Urang Minangkabau

Sejarah Rendang dan Makna Filosofisnya bagi Urang Minangkabau

Hasil survei CNN pada 12 Juli 2017 lalu menempatkan rendang sebagai makanan terenak di dunia. Selain memang nikmat, ada ffilosofi yang terkandung dalam rendang dan proses memasaknya dalam sejarah serta tradisi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.

Tak hanya CNN, apresiasi juga diberikan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI yang memasukkan rendang sebagai salah satu national food bersama dengan soto, nasi goreng, sate, dan gado-gado pada 9 April 2018.
Dikutip dari artikel “Rendang: The Treasure of Minangkabau” karya Muthia Nurmufid dan kawan-kawan yang terhimpun dalam Journal of Ethnic Foods (Desember 2017), istilah “rendang” berasal dari kata “marandang” yang bermakna “secara lambat”.

Makna tersebut merujuk pada lamanya waktu memasak rendang untuk menghasilkan tekstur daging yang kering dan aroma rempah yang kuat dengan warna cokelat gelap serta bercitarasa maksimal.

Jadi, sebenarnya rendang adalah suatu teknik memasak, bukan nama makanan. Menurut riwayatnya, rendang awalnya dibuat menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya. Bagi masyarakat Minangkabau, masakan dengan bahan daging kerbau biasanya dinikmati dalam acara-acara adat tertentu.

Rendang, tulis Reno Andam Suri dalam Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang (2012), menduduki kasta yang paling tinggi di antara hidangan lain dan sering disebut sebagai kepalo samba atau induknya makanan dalam tradisi Minangkabau.

Rendang Tradisi mengawetkan makanan sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat Sumatera. Hal tersebut terungkap dalam buku The History of Sumatra (1811) karya William Marsden yang menjelaskan bahwa penduduk Sumatera pada abad ke-19 itu sudah menerapkan proses pengawetan daging.

Teknik mengawetkan daging ini juga sudah dilakukan oleh masyarakat Minangkabau sejak dulu. Dikutip dari artikel tentang rendang oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang dalam website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, proses pengawetan ini dilakukan secara tradisional tanpa menggunakan bahan kimia.

Masyarakat Minang percaya bahwa rendang memiliki 3 makna tentang sikap, yaitu kesabaran, kebijaksanaan, dan ketekunan. Ketiga unsur ini dibutuhkan dalam proses memasak rendang, termasuk memilih bahan-bahan berkualitas untuk membuatnya, sehingga terciptalah masakan dengan citarasa tinggi.

Selain itu, ada makna simbolis lainnya. Filosofi rendang bagi masyarakat Minangkabau adalah musyawarah dan mufakat. Hal ini, dikutip dari buku Randang Bundo (2019) karya Wynda Dwi Amalia, berangkat dari 4 bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minang.

Secara simbolik, dagiang (daging) merupakan niniak mamak (para pemimpin suku adat), karambia (kelapa) melambangkan cadiak pandai (kaum Intelektual), lado (cabai) sebagai simbol alim-ulama, dan pemasak (bumbu) menggambarkan keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Rendang pada akhirnya tidak hanya disajikan dalam acara-acara adat tertentu saja. Kuliner nikmat ini kemudian menjadi makanan yang menjadi santapan khas sehari-hari masyarakat Minangkabau, juga menyebar ke banyak daerah di Indonesia bahkan dunia. Guru Besar Universitas Andalas Padang, Gusti Asnan, dilansir BBC, menyebut bahwa tradisi merantau yang kerap dilakukan orang Minangkabau menjadi alasan tersebarnya rendang ke berbagai tempat.

Orang-orang perantauan dari Sumatera Barat biasanya membawa rendang sebagai bekal, dengan dibungkus dalam daun pisang, karena makanan ini bisa bertahan cukup lama, bahkan hingga satu bulan. Baca juga: Sejarah Bakso, Kuliner Dinasti Ming untuk Nusantara Ada yang menyebut bahwa rendang punya keterkaitan dengan masakan kari dari India.

Menurut Gusti Asnan, salah satu fase memasak rendang adalah proses yang disebut kalio. Ini adalah tahap ketika rendang dimasak namun belum kehilangan seluruh santannya dan masih sedikit basah, mirip seperti masakan kari. Inilah yang kemudian mewujud pada rendang di Malaysia dan Singapura, atau negara-negara rumpun Melayu lainnya, berbeda dengan rendang asli Minangkabau yang dagingnya sudah benar-benar kering dan berwarna cokelat gelap hasil dari perpaduan dari santan, berbagai bumbu, dan rempah-rempah yang telah meresap.

Sumber: tirto.id

Selamat Datang

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim..

Bagi anda peminat masakan khas (spesifik) Minangkabau khususnya dengan resep/bumbu a la Pikumbuah 50 Kota beberapa produk WOSUGI ini sangat layak anda coba cicipi.

Aneka racikan masakan WOSUGI sudah melalang jauh ke beberapa kota di Jawa, Sumatera dan Kepulauan Riau. Selain Rendang Daging, WOSUGI juga melayani pesanan Rendang Runtiah, Rendang Telur, Rendang Paru, Rendang Ubi dll. Ada juga Serundeng dari Ubi dan Kentang.

“Ke depan, kami akan sajikan menu yang makin bervariasi agar konsumen kami lebih bisa memanjakan lidahnya. Masakan Padang (Minang) dapat dinikmati di mana saja di seantero jagad ini. Namun yang benar-benar “ngangenin” sesuai dengan lidah aseli urang Kampuang, bisa dipilih.” jelas Selly Apris, Pemilik Usaha Kuliner Wosugi

Anda dapat memesannya melalui Whatsapp klik nomor 0812 671 1924 atau datang langsung ke Lapau Nasi Kampuang di Jalan HR. Rasuna Said No. 293 Koto Panjang Payobasuang, Payakumbuh Timur.

“Deket koq, kurang 7 km dari pusat kota, menjelang Simpang Kabu-Kabu atau sebelum Pasa Taranak Pikumbuah. Ditunggu ya… pesanannya” katanya berpromosi.

Selamat memesan dan selamat menikmati makan anda dengan keluarga bersama menu dari WOSUGI.

%d blogger menyukai ini: